Hidup adalah...

Hidup adalah...

Hidup adalah masalah pilihan.
Memilih untuk bahagia atau untuk sengsara.
Memilih untuk dipulihkan atau menyimpan kepahitan.
Memilih untuk mengampuni atau untuk mendendam.

Hidup adalah masalah pilihan.
Kebahagiaan semu bisa Anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan.
Cinta kasih juga bisa Anda miliki, namun dendam dan amarah juga bisa Anda alami.

Persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatan dan kepahitan mungkin Anda dapati.

Hidup adalah masalah pilihan.
Mengenai bagaimana Anda menjalani hidup. Mengenai bagaimana Anda menghabiskan seluruh waktu. Mengenai bagaimana Anda mencapai impian.
Dan mengenai bagaimana Anda memandang kehidupan.

Ada orang yang menganggap kehidupan sebagai angin yang berhembus.
Banyak yang datang dan banyak yang pergi.
Tak dapat ditebak, dan tak dapat diselami.

Ada pula yang menganggap kehidupan sebagai medan peperangan.
Dimana ia harus berjuang tanpa henti. Tanpa kedamaian di hati

Sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutuk dari Yang Mahakuasa.
Hidup tak lagi berrarti bagi dirinya. Ratap tak pernah jauh dari mulutnya.
Air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka nestapa yang ada.

Namun..

Orang yang berbahagia menganggap kehidupan sebagai suatu emas yang mulia.
Harta nan sangat berharga.
Anugerah Ilahi yang tak tertandingi.

Dijalaninya hidup, dengan asa dan impian.
Berjalan dalam jalan Sang Pencipta.
Berserah sepenuhnya.
Melangkah setapak demi setapak.
Sampai didapatinya mahkota kemuliaannya.

Hidup adalah masalah pilihan.
Yang manakah yang Anda pilih?

Tanyalah pada diri sendiri.

Dan jalanilah hidup Anda...

Kemukjizatan Al-Qur'an

Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam, antara lain, sebagai “Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
[1]

Dalam Al-Qur’an sendiri Allah Swt. menyuruh Nabi Muhammad Saw. untuk menantang kaum yang tidak percaya dengan Al-Qur’an untuk mendatangkan bahkan satu surat saja yang bisa menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an. Namun, dalam hal yang luar biasa adalah Allah tidak hanya menantang satu orang saja, melainkan Allah menantang apa dan siapa saja selain Allah untuk membantu si penentang itu mendatangkan surat yang sama, dan hal itu mustahil dilakukan. Firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Baqarah : 23
وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبِ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلىٰ عَبْدِنَا فَأتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِه وَادْعُوْا شُهَدآءَ كُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ (البقره : ٢٣)
“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamda Kami (Muhammad), buatkanlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.S Al-Baqarah : 23)

            Adapun kemukjizatan yang menjadi bukti keotentikan Al-Qur’an penulis merangkum dalam berbagai hal berikut :

            1.      Gaya Bahasa
Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki gaya bahasa yang sangat luar biasa. Kehalusan bahasanya membuat banyak manusia tertarik untuk masuk Islam. Contohnya adalah Umar bin Khattab, beliau yang mulanya dikenal sebagai sosok yang paling benci terhadap Nabi Muhammad Saw. dan bahkan sangat haus untuk membunuhnya karena kebenciannya itu, mendapat hidayah dan masuk Islam karena mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh adiknya tatkala ia mengaji.

2.      Susunan kalimat
Susunan kalimat dalam Al-Qur’an juga dapat dikatakan mukjizat. Pasalnya, meski Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi sama-sama keluar dari lisan Nabi Muhammad Saw., namun uslub (style) atau susunan bahasanya jauh berbeda. Uslub bahasa Al-Qur’an jauh lebih tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan dua lainnya. Al-Qur’an muncul dengan uslub yang begitu indah. Di dalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai istimewa dan tidak akan pernah ada pada ucapan manusia.[2]
Dapat kita lihat contohnya dalam Q.S Al-Qari’ah : 5 bahwasanya Allah Swt. berfirman:
وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَا لْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ (القارعة : ٥)
“ Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Q.S Al-Qari’ah : 5)
Bulu yang dihambur-hamburkan sebagai gambaran dari gunung-gunung yang telah hancur lebur berserakan bagian-bagiannya.[3]Hal ini jelas merupakan kata yang easy listening, mudah dipahami dan mengandung majas yang sangat indah untuk dibaca.

3.      Hukum Ilahi yang Sempurna
Al-Qur’an merupakan dasar tasyri’ yang paling kuat dan otentik dikarenakan adalah Khitob Allah yang mulia sehingga tidak diragukan ada kecacatan dalam redaksinya. Al-Qur’an berisi pokok-pokok ajaran berupa aqidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi politik, sosial dan kemasyarakan, serta hukum-hukum ibadah.[4]
Hukum yang berlaku dalam Al-Qur’an sebagian memang ada yang bersifat sementara dan tidak universal, maka dari itulah ada Nasikh-Mansukh dalam Al-Qur’an sehingga tidak terjadi kejanggalan dalam penetapan hukum yang bersumberkan pada Al-Qur’an karena Allah mengajarkan manusia apa-apa yang benar dan tidak mengajarkan manusia apa-apa yang salah (ajaran yang sempurna).

4.      Ketelitain Redaksinya
Satu lagi hal yang tidak kalah penting yang menjadi mukjizat dalam Al-Qur’an adalah ketelitan redaksinya, yakni Al-Qur’an mencantumkan ayat-ayat yang terintegrasi satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh adalah ayat yang membahas tentang Al-Hayat (hidup), adalah sama jumlahnya dengan ayat yang membahas tentang Al-Maut (mati), yakni sebanyak 145 kali disebutkan dengan cermat dalam Al-Qur’an.
Adapun selain contoh tadi, penulis merangkum kemukjizatan dalam redaksi ayat Al-Qur’an ini sebagai berikut :
a.       Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.
1)   Al-Hayat (hidup) sama jumlahnya yakni 145 kata dengan lawannya Al-Maut (mati).
2)   An-Naf (manfaat) sama dengan Al-Madharah (mudarat) sebanyak 50 kali disebutkan.
3)   Al-Har (panas) dengan Al-Bard (dingin) yakni 4.
4)  Ath-Thuma’ninah (kelapangan/keterangan) dan Al-Dhia (kesempitan/kekesalan) adalah 13.
5)   Ar-Rahbah (cemas/takut) dan Al-Raghbah (harap/ingin) adalah 8.
6)   Al-Kufr (kekufuran) dan Al-Iman (iman) dalam bentuk definite adalah masing-masing 17.
7) As-Shayf (musim panas) dan Asy-Syita (musim dingin) disebutkan dengan sama jumlahnya satu kali.
b.      Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.
1)      Al-Harts dan Az-Zara’ah (membajak/bertani) sama-sama disebutkan 14 kali.
2)      Al-‘Ushb dan Adh-Dhurur (membanggakan diri/angkuh) 27 kali.
3)      Adh-Dhalum dan Al-Mawta (orang sesat/mati “jiwanya”) 17 kali.
4)   Al-Qur’an, Al-Wahyu, dan Al-Islam (Al-Qur’an, wahyu dan Islam) masing-masing 70 kali.
5)      Al-‘Aql dan An-Nur (akal dan cahaya) 49 kali.
6)      Al-Jahr dan Al-‘Alaniyah (nyata) 16 kali.
Masih banyak lagi sebetulnya keajaiban-keajaiban redaksi yang menjadi mukjizat dalam Al-Qur’an yang sangat apik Allah sebutkan dalam firman-Nya itu. Seperti keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya, contohnya adalah Al-Kafirun (orang-orang Kafir) dengan An-Nar/Al-Ahraq (neraka/pembakaran) masing-masing disebutkan 154 kali. Juga keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan penyebabnya, contohnya adalah Al-Asra (tawanan) dengan Al-Harb (perang) masing-masing disebut 6 kali. Adapun keseimbangan-keseimbangan khusus semisal kata Yaum (hari) dalam bentuk tunggal adalah sejumlah 365 kali disebut sebagaimana jumlah hari dalam setahun, dan masih banyak lagi.

5.      Berita tentang hal Ghaib
Sebagian ulama mengatakan bahwa mukjizat Al-Qur’an itu adalah berita-berita gaibin Fir’aun, yang mengejar nabi Musa As., diceritakan dalam Q.S Yunus : 92 :
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لَمِنْ خَلْفَكَ اٰيَةً …
“ Dan pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu….” (Q.S. Yunus : 92)
Pada ayat itu ditegaskan bahwa badan Fir’aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena telah terjadi sekitar 1.200 tahun S.M. Pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1898, ahli purbakala Loret menemukan di lembah raja-raja Luxor yang bernama Muniftah dan yang pernah mengejar Nabi Musa As. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir’aun tersebut. Apa yang ditemukannya adalah salah satu jasad utuh, seperti yang diberitakan Al-Qur’an melalui Nabi yang ummy (tidak pandai membaca dan menulis).[5]
Adapun kasus lain adalah ramalan tentang perang yang terjadi antara Romawi dan Persia yang dijelaskan melalui Q.S Ar-Rum : 1-5. Dalam hal ini ada dua poin penting, yakni :
Pertama, Romawi akan menang atas Persia pada tenggang waktu yang diistilahkan Al-Qur’an dengan “Bidh’i Sinin” yang diartikan dengan beberapa tahun.
Kedua, saat kemenangan tiba, kaum muslim akan bergembira, bukan saja dengan kemenangan Romawi, tetapi juga dengan kemenangan yang dianugerahkan Allah.
Ternyata, pemberitaan itu benar. Karena sejarah menginformasikan bahwa tujuh tahun setelah kekalahan Romawi terjadi lagi peperangan antara kedua adikuasa tersebut, dan kali ini pemenangnya adalah Romawi.[6]

6.      Isyarat-Isyarat ilmiah
Hal yang tidak kalah hebatnya dari mukjizat Al-Qur’an adalah adanya bukti-bukti ilmiah yang tercantum dalam Al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke-14 Masehi ini yang dibuktikan pada zaman modern sekarang. Hal ini sangat membuat takjub para ilmuwan Barat dan sebagian dari mereka mendapat hidayah memeluk agama Islam.
Adapun beberapa isyarat ilmiah yang tercantum dalam Al-Qur’an antara lain :
a.       Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan (Q.S Yunus : 5)
b.      Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan napas. (Q.S. Al-An’am : 125)
c.       Perbedaan sidik jari manusia. (Q.S Al-Qiyamah : 4)
d.      Aroma/bau manusia berbeda-beda. (Q.S Yusuf : 94)
e.       Masa penyusuan ideal dan masa kehamilan minimal. (Q.S Al-Baqarah : 233)
f.       Adanya nurani (superego) dan bawah sadar manusia. (Q.S Al-Qiyamah : 14-15)
g.      Yang merasakan nyeri adalah kulit. (Q.S An-Nisaa : 56)[7]

Wallahu’alam…


[1] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1997, hlm.23.
[2]Subhi Shalih, mabahits fi ‘Ulum Al-Quran, Dar Al-‘Ilm Al-Malaya, Beirut, 1998, hlm.230.
[3]Prof. Dr. Rosihon Anwar, Ulum Al-Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hlm.194.
[4] Ibid.
[5] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, Mizan, 1922, hlm.31
[6]Shihab, op. cit.hlm.213-214.
[7]Rosihon, op. cit.hlm.199-201.

Athaf


Yang dimaksud dengan ‘athaf adalah lafadz yang dihubungkan dengan lafadz yang mendahuluinya oleh salah satu huruf ‘athaf. Huruf ‘athaf ada sepuluh.
1)   و = dan
Berfungsi untuk menjumlah. Contoh :
صَلَّى الْاِمَامُ وَ الْمَاْ مُوْمُ
Imam dan makmun shalat
2)      ف  = lalu, kemudian
Berfungsi untuk menertibkan urutan. Contoh :
اُطْلُبُ الْعِلْمَ فَاَعْمَلْهُ
Carilah Ilmu, kemudian amalkanlah
3)      ثمّ = lalu, kemudian
Berfungsi untuk tertib dengan tenggang waktu. Contoh :
تَوَضَّاْ ثُمَّ صَلِّى
Berwudhulah kemudian Shalat
4)      او  = atau, sampai, sehingga
Berfungsi untuk (1) memilih/boleh pilih. Contoh :
خُذْهٰذَا اَوْ ذَا لِكَ
Ambillah ini atau itu
Berfungsi untuk (2) syak/ragu-ragu. Contoh :
لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
Kami tinggal sehari atau setengah hari

Berfungsi untuk (3) pembatas. Contoh :
لَآسْهَرَنَّ اَوْ اَحْفَظَ الدَّرْسَ
Saya tidak akan tidur sehingga hafal pelajaran
5)      ام  = atau, maupun, bahkan
Berfungsi untuk (1) meminta penegasan. Contoh :
اَتُفَّاحًا اَكَلْتَ اَمْ بُرْتُقَالًا
Apel atau jeruk yang anda makan
Berfungsi untuk (2) perbandingan. Contoh :
اَلَيْلًا تَذْهَبُ اَمْ نَهَارًا
Malamkah anda pergi atau siang
Berfungsi untuk (3) dua perkara yang sama. Contoh :
سَوَاءٌ عَلَىَّ اَقَعَدْتَ اَمْ قُمْتَ
Bagiku sama saja, anda duduk atau berdiri
Berfungsi untuk (4) menyusul. Contoh :
هَلْ يَسْتَوِى اْلآعْمَى وَ الْبَصِيْرُ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمَاتُ وَ النُّوْرُ ؟
Samakah orang buta dengan orang melihat, bahkan samakah gelap dan terang?
6)      بل  = bahkan, oh bukan, melainkan
Berfungsi untuk (1) menyusul, membetulkan kesalahan. Contoh :
اَشْتَرَيْتُ ذَوَاةً بَلْ قَلَمًا
Saya membeli tinta, bahkan pulpen juga
Berfungsi untuk (2) membetulkan salah anggapan. Contoh :
جَآءَ الرَّئِيْسُ بَلْ نَائِبُهُ
Presiden tidak datang, melainkan wakilnya, yang datang
7)      لكن = tetapi
Berfungsi untuk membetulkan salah anggapan. Contoh :
مَا جَآءَ السَّيِّدُ لٰكِنْ خَا دِمُهُ
Bukan tuannya yang datang, tetapi pelayannya
8)      لا = tidak, bukan
Berfungsi untuk (1) meniadakan anggapan dari ma’thuf. Contoh :
حَصَدْنَا الْقَمْحَ لَا الشَّعِيْرَ
Kami mengetam gandum, bukan beras
Berfungsi untuk (2) meniadakan fiil madhi secara tegas. Contoh :
لَا صَلَّى وَ لَا صَا مَ
Dia tidak shalat juga tidak puasa 
Berfungsi untuk (3) meminta meninggalkan pekerjaan pada zaman mustaqbal dengan bentuk fi’il madhi seperti do’a. contoh :
هَلَكَ عَدُوُّ لِلّٰهِ فَلَا رَحِمَهُ اللهُ
Sungguh binasa musuh Allah dan semoga tidak dikasihani oleh Allah
9)      امّا = baik, maupun, atau, entah, boleh
Berfungsi untuk (1) tafshil. Contoh :
تَحَمَّلْ عَلَى اَخِيْكَ اِمَّا مُحْسِنًا وَ اِمَّا مُسِيْئًا
Sabarlah pada saudaramu, bila dia itu baik maupun jelek
Berfungsi untuk (2) takhyir/boleh pilih. Contoh :
اِمَّا اَنْ تَذْهَبَ وَاِمَّا اَنْ تُغَيِّرَ حَا لَكَ
Boleh pilih apakah anda pergi atau anda ubah keadaan anda
Berfungsi untuk (3) ragu-ragu/syak. Contoh :
رَاَيْتُ اِمَّا صَا لِحًا وَاِمَّا عَلِيًّا
Saya lihat entah Shaleh entah Ali
Berfungsi untuk (4) ibahah (boleh). Contoh :
تَكَلَّمْ اِمَّا بِالْجَاوِيَّةِ وَاِمَّا بِاالسُّنْدَاوِيَّةِ
Bicaralah, boleh dengan bahasa Jawa dan boleh pula dengan bahasa Sunda
10)  حتّى = sampai, sehingga/hingga
Berfungsi untuk pembatas. Contoh :
فَرَّالْجُنُوْدُ حتَّى الْقَا عِدُ
Prajurit-prajurit itu lari, sampai komandannya
           
Huruf ‘athaf bersinonim ‘kata penghubung’. Dimana apabila ma’thuf alaih marfu, maka ma’tufhnya marfu’ juga. Apabila ma’thuf ‘alaihnya manshub, maka ma’thufnya manshub juga. Begitupun seterusnya.

·         Ma’thuf           = yang di ‘athafkan / diikutsertakan

·         Ma’thuf ‘alaih = yang di’athafi / diikuti

      Rujukan :
      Kitab Al-Jurumiyah yang diterjemahkan oleh Drs. Djawahir Djuha dalam buku Tata Bahasa Arab (Ilmu Nahwu) diterbitkan oleh Sinar Baru Algesindo.

Kumpulkan Poin dan Dapatkan Hadiahnya! Buruan Klik!

Entri Populer

Blog Archive

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.